jaminan sosial indonesia
x

Login

Lupa Password

Opini - TANTANGAN GOTONG ROYONG JKN-KIS

Oleh: Odang Muchtar (Praktisi Jaminan Sosial dan Asuransi Jiwa) 19 July 2017

Universal Health Coverage membuka akses pelayanan kesehatan  setiap penduduk melalui perluasan kepesertaan JKN-KIS yang Januari lalu mencapai 173 juta jiwa. Potensi perluasan peserta JKN-KIS jelang 2019 adalah pada Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Pekerja Penerima Upah (PPU) yang bekerja di ratusan ribu perusahaan, termasuk BUMN.

Mencapai target dengan gotong-royong JKN-KIS tersebut tak mudah, ibarat mendaki “bukit terjal”, Berikut gambarannya, yang diolah dari laporan BPS-Sakernas 2015-2016 dan BPJS Kesehatan:

PBPU yang menggunakan istilah BPS-Sakernas 2015-2016 disebut “penduduk berusaha sendiri”, berjumlah 43,7 juta ditahun 2016, adalah dengan pendapatan rata-rata 1,7 juta rupiah sebulan, dengan pendidikan 64% sampai sekolah menengah, dan sudah menikah 70 persen serta 54% berusia muda 20 sampai dengan 44 tahun. Dari jumlah tersebut,

  1. hampir sepertiga PBPU telah terdaftar sebagai peserta PBI; dan
  2. 7 sampai 8 juta PBPU mendaftar dengan membayar iuran untuk dirinya dan keluarga (asumsi K-1), dengan demikian maka;
  3. potensi yang belum mendaftar berjumlah berkisarlebih dari sepuluh juta. Mereka ini sangat mungkin terdiri PBPU “berusaha sendiri dengan dibantu buruh” sebanyak 4,3 juta, dan ditambah sebagian dari “berusaha sendiri”. Umumnya mereka berusia muda, berusia antara 20 sampai dengan 44 tahun: 54 persen.

Potensi berikut adalah PPU: “buruh/karyawan” yang berjumlah 45 juta yang bekerja pada ratusan ribu perusahaan. Per Januari 2017,  jumlah peserta PPU adalah 24  juta jiwa, atau dengan asumsi K-1 (kawin anak 1) maka jumlah peserta JKN-KIS sektor PPU adalah di kisaran 7 juta buruh pembayar iuran ditambah PNS/TNI-Polri 4,8 juta kepala keluarga, sehingga kedua peserta kelompok PPU ini berjumlah hampir dua belas juta PPU. Dengan demikian maka potensi peserta JKN-KIS ke depan dari sektor PPU adalah sekitar 31 juta, yang terdiri buruh/karyawan tetap maupun status outsourcing, KKWT pada ratusan ribu perusahaan termasuk BUMN.

Hambatan dan Tantangan

Hambatan dan tantangan mengajak PBPU untuk gotong royong pada JKN-KIS berbeda dengan PPU. Dalam bahasa sederhana adalah:

  1. PBPU dengan pendapatan rata-rata 1,7 juta rupiah sebulan, pendidikan 64% sampai sekolah menengah, dan sudah menikah 70 persen, umumnya sudah terdaftar sebagai PBI. Sedangkan belasan juta PBPU berpendapatan baik, berusia muda dibutuhkan himbauan dan pendekatan Gotong Royong JKN-KIS yang berbeda. Pembenaran dibutuhkan pendekatan baru, adalah kenyataan bahwa lebih dari separuh peserta PBPU saat mendaftar dalam keadaan sakit katastropik-kronis atau sebagian hamil muda.
  2. Kepatuhan PPU yang harus didaftarkan kolektif oleh perusahaan masing-masing relatif (sangat) rendah. Yang mengemuka ada dua penyebabnya. Pertama, di perusahaan besar bahkan termasuk BUMN masih meragukan praktik saat karyawan membutuhkan pengobatan. Pelayanan termasuk ketersediaan obat, dokter, masih diragukan serikat pekerja termasuk manajemen perusahaan. Kedua, iuran JKN bagi perusahaan termasuk progresif walaupun dengan batas atas upah saat menghitung iuran. Bagi perusahaan muda usia dengan didominasi karyawan bujang, maka iuran JKN menjadi terasa lebih mahal. Sebaliknya, meskipun didominasi karyawan berkeluarga, iuran JKN dapat tetap memberatkan, karena peraturan perusahaan menjanjikan manfaat kesehatan yang dipersepsikan lebih baik. Sehingga di samping membayar iuran JKN, perusahaan juga membiayai pelayanan kesehatan bagi karyawan dan keluarganya.

Dengan kedua kendala di atas, maka memperluas jumlah peserta PPU, membutuhkan kajian yang lebih dalam, dengan kata lain tidak cukup dengan menaikkan batas-atas upah, pengaturan COB maupun mengintensifkan kepatuhan melalui aparat pengawas ketenagakerjaan dan hukum.

 

Pengutipan sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan judul, tanggal dan sumber:
TANTANGAN GOTONG ROYONG JKN-KIS
http://www.jamsosindonesia.com/opini/tantangan_gotong_royong_jkn-kis
Martabat - www.jamsosindonesia.com, 2016

Komentar
Email*
Nama
Website