jaminan sosial indonesia
x

Login

Lupa Password

Kisah - Rini S Bon Bon Jadi Peserta JAMSOSTEK

Oleh: Jamsos Indonesia 29 April 2011

Irni Yusnita atau yang akrab disapa Rini S Bon Bon memutuskan masuk menjadi peserta Program JAMSOSTEK melalui wadah keartisan “Persatuan Artis Komedian Indonesia (PASKI) dengan membayar premi Rp. 125 ribu per bulannya. Masuknya Rini jadi peserta JAMSOSTEK dikarenakan pengalamannya membayar sendiri pengobatan ketika masuk rumah sakit, dengan menjual asset pribadi berupa rumah, perhiasan serta mobil Toyota Corona kesayangannya.

“Aku jadi peserta Jamsostek berkat ajakan Mas Indro “Warkop” sebulan lalu,” jelasnya saat ditemui di rumahnya Jalan Kramat Lontar 12 Jakarta, Rabu (27/4) Karena baru, ia mengaku belum merasakan kepuasan sebagai peserta. Tetapi, ia sadar atas manfaat jaminan kesehatan itu penting. Apabila sakit, bisa sedikit tenang tanpa harus memikirkan biaya.

Rini adalah pelawak sekaligus pemain sinetron di era tahun 1990-an. Puncak  kariernya  diawali tahun 1991, bermain film bersama  “Warkop”. Kala itu ada tiga judul film yang ia perankan yaitu; Bagi-Bagi DongLupa Aturan Main, dan  Makelar Kodok. “Saat itu “Warkop” butuh sosok cewek yang gemuk, dan aku masuk menurut kriteria mereka,” ungkap perempuan yang masih lajang ini. Selain film, Rini pernah mengadu akting di  sinetron di antaranya, Kolor Ijo, Preman Insaf dan Mat Angin. Rini juga sempat menjadi presenter dalam acara Mentari Pagi yang disiarkan oleh stasiun televisi TPI.

Ketika berada di puncak kesuksesan,  perempuan kelahiran Jakarta, 25 Maret 1971 ini terkena penyakit diabetes. Karena tidak memiliki asuransi/jaminan kesehatan, ia sempat mengalami kesulitan dalam masalah biaya. Bagaimana ia mengatasi masalah biaya untuk pengobatannya?

Di kawasan Salemba, JamsosIndonesia.com menyambangi ke kediaman Rini S Bon Bon, yang masih tinggal bersama orang tuanya di rumah berukuran 6x9 meter persegi, berwarna abu-abu. “Anda yang ingin wawancara aku? Mari silahkan masuk!”, sapanya sembari mengajak jabat tangan. Rini adalah anak keenam dari tujuh bersaudara, hasil pasangan R. Suhandi Hasan (66) dan Muningsih (64). Ayahnya bekerja jual beli mobil bekas dan penjual beras, sedangkan ibunya sebagai ibu rumah tangga.

Kala sukses, penghasilan Rini mencapai sekitar Rp 20 juta per bulan. Dari penghasilan itu, ia menginvestasikan sebagian pendapatannya dengan membeli beberapa asset berupa rumah di Komplek Kompas Indah - Bekasi, tanah seluas 250 meter di daerah Cileunyi - Bogor, serta rumah kontrakan dan 10  pintu rumah kost di Kramat Lontar. Selain itu, ia juga memiliki mobil Toyota Corolla. Rini pun dapat memberangkatkan orang tuanya pergi Umroh. “Aku bersyukur bisa membantu dan menghidupi keluargaku,” kata Rini.

Sakit Diabetes

Pada tahun 2008, Rini mulai mengalami sakit diabetes. Berawal saat kakinya lecet akibat sepatunya yang berukuran sempit. Ia melihat kakinya melepuh seperti tersiram air panas, ia pun menusuknya dengan jarum. Bukan kesembuhan yang ia dapat, sakitnya semakin parah. Ia menduga bahwa penyakit diabetes yang ia derita adalah merupakan penyakit keturunan dari ayahnya. Sejak itu Rini melakukan perawatan di Klinik Wira, Jakarta selama tiga bulan dan menghabiskan dana sebesar Rp 50 juta. Karena  tak kunjung sembuh, Rini pun berobat ke RS St Carolus, Jakarta Pusat. Dokter menyarankan agar kaki kirinya diamputasi. Namun, Rini menolak.

Pada April 2009, sakit yang dialami Rini kian parah, bukan hanya diabetes saja, tetapi  berlanjut komplikasi stroke dan jantungnya pun “terendam.” Rini pun sempat tak sadarkan diri dan dilarikan ke RS Thamrin, Paseban, Jakarta Pusat hingga masuk ICU. Untuk membiayainya,  Rini pun harus merogoh kocek sebesar Rp 250 juta.

Jual Harta Miliknya

Rini mengaku saat sakit ia tidak memiliki asuransi kesehatan. Sebelum sakit, Rini pun pernah ditawari untuk menjadi peserta asuransi, namun ia menolaknya. Ia lebih senang menabung dan membeli asset. Uang tabungan dari hasil syuting, asset dan hasil usaha-usaha yang dijalankannya hampir habis "termakan" untuk biaya perawatan di rumah sakit. “Tanah di Cileunyi memang belum aku jual, rencananya kalau ada rezeki aku ingin bikin sekolah TK,” ujarnya. 

Sekalipun dinyatakan sembuh oleh dokter, namun kondisi kesehatannya yang belum pulih benar. Rini disarankan tetap menjalani kontrol secara reguler sebulan sekali ke rumah sakit. Untuk biaya sekali datang, ia harus merogoh kocek Rp 135 ribu, selain harga obatnya sebesar Rp 3 juta. Uang itu diperolehnya dari usaha menjual pakaian dan kue kering yang masih digelutinya karena belum bisa melakukan aktivitas syuting. “Aku usaha selain menambah pemasukan, juga untuk menghilangkan kejenuhan di rumah,” jelasnya..  

Belajar dari pengalaman itulah, Rini memutuskan ikut menjadi peserta JAMSOSTEK dan mengikuti program Jaminan Kesehatan, bersama-sama para anggota PASKI lainnya. (Egie)

 


© MARTABAT, April 2011

Pengutipan sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan judul, tanggal dan sumber:
Rini S Bon Bon Jadi Peserta JAMSOSTEK
http://www.jamsosindonesia.com/kisah/rini_s_bon_bon_jadi_peserta_jamsostek
Martabat - www.jamsosindonesia.com, 2016