x

Login

Lupa Password

Penuaan Usia Penduduk, Pengangguran dan Kemiskinan Akibat Krisis Ekonomi dan Dampaknya Terhadap Jaminan Sosial

oleh: Bambang Purwoko 25 June 2012 (Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional)

Uraian singkat hasil kunjungan Prof. Bambang Purwoko beserta tim DJSN (Dewan Jaminan Sosial Nasional) pada konferensi Internasional ke 17 tentang Aktuaria dan Statistik Jaminan Sosial, 30 Mei – 1 Juli 2012 di Berlin, Jerman.

1. MASALAH PENUAAN USIA PENDUDUK

Konteks demografi skala-dunia dihadapkan pada faktor berkurangnya angka-kematian dan faktor berkurangnya angka kelahiran. Berkurangnya angka kematian berdampak terhadap bertambahnya lama-hidup kemudian berkurangnya angka kelahiran berpengaruh terhadap piramida demografi (ILO, 2010). Secara teknis, berkurangnya angka kematian memberikan kontribusi terhadap bertambahnya jumlah penduduk usia produktif. Sebaliknya berkurangnya angka kelahiran berpengaruh terhadap jumlah penduduk usia produktif. Kedua faktor tersebut menyumbang bertambahynya jumlah penuaan usia penduduk (ageing population).

Hasil penelitian ILO (2010) menunjukkan bahwa jumlah penduduk dunia di tahun 2050 akan menjadi 9,2 milyar atau bertambah 2,3 milyar dari 6,9 milyar penduduk dunia di tahun 2010. Jumlah penduduk dunia 3,7 milyar di tahun 1970 bertambah menjadi 6,9 milyar di tahun 2010. Berkaitan dengan itu, Konferensi Internasional ke-17 tentang Aktuaria Jaminan Sosial yang diselenggarakan Asosiasi Jaminan Sosial Internasional  (ISSA) pada tanggal 29 Mei - 2 Juni 2012 di Berlin menunjukkan bahwa 5,5 milyar penduduk dunia (80%) tidak dilindungi dengan jaminan sosial dan diantaranya terdapat 342 juta orang tua (yang umumnya berasal dari negara-negara berpendapatan menengah ke bawah) mengalami kekurangan pendapatan. Jumlah orang tua (the elderly) sebagai bagian dari problem penuaan usia penduduk diproyeksikan bertambah menjadi 1,2 milyar di tahun 2050. Karena sebagian besar tak dilindungi dengan jaminan sosial, maka penduduk rentan miskin di dunia diperkirakan menjadi 5,36 milyar di tahun 2050.

Selain masalah penuaan usia penduduk, juga adanya faktor migrasi dari negara-negara berkembang dengan tujuan negara-negara maju. Rendahnya daya serap pekerjaan di negaranegara maju umumnya di Eropa terkait dengan krisis ekonomi yang melanda Yunani, Portugal, Spanyol dan Italia. Dampak rendahnya daya serap pekerjaan berpengaruh secara nyata terhadap bertambahnya jumlah pengangguran baik yang bersifat terbuka (open unemployment) maupun PHK (layoff). Peristiwa pengangguran yang berkepanjangan tersebut akan menambah jumlah penduduk miskin. Akibatnya, posisi sistem jaminan sosial menjadi terancam karena berkurangnya jumlah kepesertaan penduduk usia produktif di Eropa. Proses penuaan usia penduduk tumbuh dengan cepat di Asia kecuali Jepang kurang dari 1 abad menyusul Asean dan Indonesia dihadapkan pada bertambahnya jumlah penuaan usia penduduk sebanyak 11,8 juta atau baru 5% dari jumlah penduduk. Dari jumlah penduduk usia tua yang berumur 60 tahun ke atas baru 3 juta orang tua yang memiliki jaminan pensiun yang sebagian besar pensiunan PNS dengan jumlah 2,7 juta. Berarti terdapat 8,8 juta penduduk usia tua miskin (the poor elderly) di Indonesia, karena tidak memiliki jaminan pensiun.

2. KRISIS EKONOMI, MASALAH KETENAGAKERJAAN DAN JAMINAN SOSIAL

Transisi demografi dan kemiskinan di atas merupakan masalah berat dalam implementasi sistem jaminan sosial di seluruh dunia, karena berkurangnya penerimaan iuran dan bertambahnya pengeluaran manfaat. Masalah global yang terkait dengan transisi demografi perlu menjadi bahan renungan tersendiri bagi DJSN dalam merumuskan kebijakan umum yang berimbang, luwes dan antisipatif. Dalam hal ini, ”SJSN” bukanlah segalanya dan bukan juga sebagai ”the saviour of the nation”. Kita perlu menyadari bahwa apa yang kita miliki adalah sebuah ”SISTEM” jaminan sosial yang perkembangannya atau kesuksesannya sangat ditentukan dari ”KINERJAEKONOMI” (adanya pertumbuhan ekonomi yang insklusif), KETENAGAKERJAAN (kebijakan kesempatan-kerja/hubungan-industrial) dan KEBIJAKAN YANG CERDAS (smart policy).
Berikut disampaikan kutipan dari hasil penelitian ILO (2010) tentang korelasi kinerja ekonomi, ketenaga-kerjaan dan jaminan sosial:

The relationship between social security, employment and economic performance is complex and multidimensional. Historically, high levels of growth and employment have had a positive impact on the extension of social protection and social security benefits. Most social insurance schemes are financed out of labors-employer’ incomes to protect them against risks related to unemployment, sickness, disability and old-age. “Favorable social security” and employment outcomes are influenced by economic growth and all of them contribute to progress in human and economic development and to poverty reduction.

Arti dari kutipan tersebut adalah bahwa jaminan sosial yang dibiayai dengan iuran peserta sangat ditentukan oleh kondisi ketenaga-kerjaan, pertumbuhan investasi langsung untuk kesempatan kerja baru dan ekspansi kredit investasi untuk pertumbuhan dunia usaha. Aplikasinya secara kuantitatif adalah bahwa kepesertaan semesta jaminan sosial sangat tergantung dari kondisi ketenaga-kerjaan, invetasi langsung dan ekspansi kredit investasi sebagai peubah penentu. Untuk mengetahui ada tidaknya kemajuan dalam penyelenggaraan jaminan sosial di Indonesia digunakan faktor jumlah akumulasi dana Jamsostek-Taspen yang membentuk “aktiva” sebesar Rp 174 trilyun di tahun 2011. Apabila dibandingkan dengan nilai nominal GDP sebesar ? Rp 6000 trilyun, maka baru mencapai 2,9% Jika dikaitkan dengan akumulasi dana pensiun privat sebesar Rp 200 trilyun, maka progress yang dicapai sebesar Rp 374 trilyun. Apabila dibandingkan dengan GDP baru mencapai 6,2%. Semestinya akumulasi dana jaminan sosial yang dihimpun sejak dekade 1970an hingga sekarang setara dengan APBN tahun 2011 sebesar Rp 1200 trilyun. Ada sesuatu “missing factors” yaitu masalah ketenaga-kerjaan yang masih belum selesai walaupun pertumbuhan ekonomi kita relatif moderat sebesar ? 7%. Karena itu, sangatlah naif untuk katakan bahwa sistem jaminan sosial dapat mengatasi krisis ekonomi. Ke depan, kita tidak ingin pertumbuhan ekonomi tinggi akan tetapi kita hidup penuh risiko, karena apa yang kita perbuat tidak ditopang dengan proteksi sosial sebagaimana mestinya.

3. KESIMPULAN

Dari penyajian di atas dapat dikemukakan bahwa penyelenggaraan SJSN ke depan selain dipengaruhi krisis ekonomi yang kerap terjadi setiap dekade, juga ada pengaruh dari dampak pertumbuhan penuaan usia penduduk di Asia. Karena itu perumusan kebijakan umum DJSN ke depan tidak seharusnya normatif semata karena amanat UU, melainkan memperhatikan hal hal yang sifatnya “uncontrollable factors “ agar dalam implementasi SJSN dapat menyesuaikan dengan keadaan. Selain itu, juga saatnya bagi DJSN untuk merumuskan kebijakan penundaan usia pensiun untuk pekerja sektor swasta dari 55-58 atau dari 55-60 sebagai bagian dari solution to the ageing problem di Indonesia.

Proteksi sosial adalah sistem pengamanan dalam implementasi jaminan sosial. Idealnya disiapkan lebih dulu atau paling tidak dilakukan secara bersamaan dengan implementasi SJSN. Akan tetapi hingga sekarang belum ada tanda-tanda dari Pemerintah untuk mengupayakan-nya. Penyiapan proteksi sosial berupa perluasan faskes, bursa tenaga-kerja yang memiliki akses internasional dan social protection floor (SPF) yang memberikan akses kesehatan, pendidikan dan kebutuhan dasar lainnya bagi penduduk miskin.

Dalam hal ini, DJSN beserta BPJS tidak bertanggung-jawab terhadap pengadaan / penyediaan proteksi sosial termasuk SPF. Sebaliknya DJSN beserta BPJS dapat meminta Pemerintah untuk melakukan percepatan pengadaan proteksi sosial guna menjamin sustainabilitas BPJS dalam menyelenggarakan program SJSN di masa datang.

4. REFERENSI

UN: The World Population Prospects of 2010 (Revised Edition)
ILO: The Economic and Social Implications of the New Demographic Context (2010)
Konferensi Internasional ke 17 tentang Aktuaria Jaminan Sosial di Berlin, Juni 2012.

 

Link : Bonus Demografi Untungkan Indonesia

Follow Kami di:

Print this page

 

Pengutipan sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan judul, tanggal dan sumber:
Penuaan Usia Penduduk, Pengangguran dan Kemiskinan Akibat Krisis Ekonomi dan Dampaknya Terhadap Jaminan Sosial
http://www.jamsosindonesia.com/opini/penuaan_usia_penduduk_pengangguran_dan_kemiskinan_akibat_krisis_ekonomi_dan_dampaknya_terhadap_jaminan_sosial
© Martabat - www.jamsosindonesia.com, 2013
Komentar
Email*
Nama
Website
Iklan



Kembali Ke Jamsosda Atas