x

Login

Lupa Password

Berita SJSN > Jamkesmas

23 Nopember 2011

RS Kota Blitar Tolak Pasien Miskin

BLITAR – Nur Islamiyah, warga miskin pengguna program Jaminan Persalinan (Jampersal) asal Desa Bakung, Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar ditolak oleh petugas kesehatan RSU Mardi Waluyo Blitar. Mereka beralasan tidak ada dokter jaga. 

Sunaryo Broto,suami Nur yang takut terjadi apa-apa dengan istrinya mencoba menawar ke petugas agar istrinya dirujuk ke RSUD Ngudi Waluyo Wlingi,Kabupaten Blitar. Selain darah mulai berceceran (pendarahan), pasangan suami istri ini bukan termasuk golongan masyarakat yang mampu membiayai operasi persalinan. Namun, permintaan tersebut ditolak,karena disana (RS Ngudi Waluyo) juga tidak ada dokter jaga. 

”Petugas kesehatan itu menyebut nama dokter Bambang yang dikatakan tidak sedang berjaga di RSUD Ngudi Waluyo,”ujar Koordinator LSM Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Jawa TimurArif Witanto. Keluarga pasien diberi pilihan dirujuk ke rumah sakit swasta Aminah, Kota Blitar. Syaratnya, status pasien harus terlebih dahulu diubah dari Jampersal menjadi pasien umum. 

Secara administratif keluarga juga diminta membuat surat pernyataan yang intinya menyetujui pengubahan status tersebut. ”Karena kondisi pasien sudah mengkhawatirkan, keluarga akhirnya me nyetujui,”terang Arif. Dalam operasi caesar tanggal 22 Oktober 2011 itu , pasien diwajibkan membayar dana sebesar Rp 6.710.000. Bagi Sunaryo yang kesehariannya bekerja sebagai penjual pentol keliling, kewajiban tersebut tentu memberatkan. 

”Untuk memenuhi semua itu keluarga pasien terpaksa harus mengutang,” papar Arif. Berdasarkan SK Menteri Kesehatan No 515/Menkes/ III/2011, program Jampersal di danai oleh APBN. Pada tahun 2011 pemerintah pusat mengalokasikan anggaran untuk program Jampersal sebesar Rp922,79 miliar.Dana tersebut untuk mensubsidi 4,5 juta jiwa ibu hamil di seluruh Indonesia. Setiap pasien Jampersal dengan persalinan normal cukup membayar Rp 350.000. 

Sedangkan pasien umum sebesar Rp 600.000. Pasien Jampersal yang melakukan operasi caesar hanya membayar Rp 2,5 juta.Yang mengejutkan, lanjut Arif,operasi caesar di RS Aminah dipimpin oleh dokter Bambang yang sebelumnya dikatakan tidak sedang berjaga di RSU Ngudi Waluyo Wlingi. Arif menilai ada ketidakberesan dalam sistem yang berjalan di rumah sakit.Ada kesengajaan melakukan upaya mencari keuntungan berlebih dengan jalan menipu negara sekaligus merugikan masyarakat. 

Anggota DPRD Kabupaten Blitar M Ansori menyayangkan kejadian tersebut. Hal itu mengingat,pasien miskin yang ditolak itu merupakan warga Kabupaten Blitar. ”Tidak ada ketentuannya rumah sakit itu menolak pasien. Apalagi dengan alasan tidak ada dokter jaga,” ujarnya. 

Karena RSU Mardi Waluyo berada di Kota Blitar,Ansori meminta institusi terkait, khususnya legislatif untuk mengambil langkah. ”Ini tidak bisa dibiarkan.Harus ada pengusutan,”tegasnya. Sementara itu RSU Mardi Waluyo Kota Blitar belum bersedia memberikan keterangan. ??solichan arif 

 

Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/445792/37/

Follow Kami di:

Komentar
Email*
Nama
Website
IklanIklan



Kembali Ke Jamsosda Atas