jaminan sosial indonesia
x

Login

Lupa Password

Kisah - Tutty Alawiyah: ‘Tak pernah terpikir ikut program asuransi’

Oleh: Jamsos Indonesia 03 June 2011

 

Hingga usianya menjelang 70 tahun, Tutty Alawiyah tak pernah terpikir untuk ikut program asuransi. Bila pun ia sakit umpamanya, biaya pengobatan dilunasi secara cash.

Prof DR Hj Tutty Alawiyah AS, lahir di Jakarta pada 30 Maret 1942. Terlahir dari pasangan KH Abdullah Syafi’ie dan Hj Rogayah, kini Tutty mengikuti jejak almarhum sang ayah, yakni berjuang demi kesejahteraan umat.

Perjuangan itu tak hanya diimplementasikan pada tatanan informal tapi juga ke ranah formal. Tercatat, Tutty pernah menjabat sebagai Anggota MPR RI Periode 1992-1997, Periode 1997-2002, dan Anggota Badan Pekerja (BP) MPR RI Ad Hoc II 1997/1998. Selain itu, ia pernah menduduki posisi sebagai Menteri Negara Peranan Wanita Kabinet Pembangunan VII 1998, Menteri Negara Peranan Wanita (Menperta) Kabinet Reformasi Pembangunan, dan Anggota MPR RI utusan Golongan Tahun 1999-2004.

Di masa senjanya, Tutty masih tetap sibuk menjabat Rektor Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) di Jatiwaringin, Bekasi, Jawa Barat. Selain itu, ia masih aktif sebagai Pendiri/Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), Ketua International Muslim Women’s Union (IMWU) Indonesia, Direktur Eksekutif International Muslim Women’s Union (IMWU) untuk Asia, Sekjen Perhimpunan Masyarakat Madani (PMM) dan menjadi Presiden Komisaris pada sejumlah perusahaan.

Tepat 15 Desember 2010 lalu, Tutty mendapat gelar profesor kehormatan dari Liuzhou University, Guangxi, Cina. Pada kesempatan tersebut, Rektor Liuzhou University, Prof Dr Zeng Funping PhD, menyerahkan langsung penghargaan tersebut.

Sebagai wanita Indonesia yang sudah cukup merasakan ‘asam-garam kehidupan’, Tutty nelangsa melihat rakyat Indonesia belum memiliki jaminan sosial. “Sudah semestinya seluruh rakyat Indonesia ini memperoleh jaminan sosial. Mulai dari jaminan kesehatan, kecelakaan kerja, kematian, hari tua, dan pensiun. Usia kemerdekaan Republik Indonesia ini sudah 66 tahun, tapi hingga kini masih banyak rakyat kita yang belum mendapatkan jaminan sosial sebagaimana layaknya,” keluhnya kepada jamsosindonesia.com.

Tutty pun mendesak Pemerintah bekerja cepat memberi jaminan sosial kepada rakyat, termasuk Partai-Partai Politik agar terus memperjuangkan aspirasi rakyat ini. “Apalagi, sejak tahun 2004 sudah ada UU SJSN, maka tunggu apalagi, segera berlakukan dan gerakkan semangat untuk memberi jaminan sosial secara nasional itu kepada rakyat. Tugas ini bukan saja diemban oleh Pemerintah tetapi juga termasuk Partai-Partai Politik. Jangan hanya mereka mengumbar janji-janji saja yang disampaikan kepada rakyat setiap kali berkampanye politik,” ujar peraih penghargaan dari Presiden Irak ini.

Menurut Tutty, di luar negeri sudah banyak negara-negara yang menerapkan sistem jaminan sosial bagi rakyatnya. “Kalau kita berkaca ke luar negeri, di sana kondisi masyarakat sebagai warganegara sudah mengantongi jaminan sosial yang ditanggung oleh pemerintahnya masing-masing. Memang belum semua negara memberlakukan hal tersebut, tapi minimal Indonesia bisa mencontoh hal-hal baik yang semacam itu,” serunya.

Akan tetapi, kesibukan Tutty dalam berkarir dan memperjuangkan kemaslahatan umat, justru melenakannya. Tidak terpikir olehnya untuk menjadi peserta program asuransi dalam bentuk apa pun. “Kalau ditanya, apakah saya punya atau menjadi peserta asuransi kesehatan maupun asuransi jiwa? Jawaban saya adalah belum. Karena selama ini saya terus berjuang dan memperjuangkan kemaslahatan umat, jadi sampai lupa dan tidak terpikirkan sama sekali untuk menjadi peserta asuransi untuk memproteksi diri. Selama ini, saya hanya memasrahkan saja hidup dan kehidupan kepada Allah SWT,” pasrahnya.

Yang jelas, katanya lagi, tanpa menjadi peserta asuransi dengan berbagai program yang ditawarkan tadi, hidupnya alhamdulillah tetap menjadi yang biasa-biasa saja. “Tapi memang, untuk menjadi peserta asuransi, belum pernah terpikirkan oleh saya bahkan hingga saat ini pun masih demikian adanya,” tukasnya.

Tutty menjelaskan, usianya yang sudah tidak muda lagi dan kesibukan yang terus meningkat, membuatnya merasa sudah terlambat untuk ikut menjadi peserta program asuransi. “Mungkin, karena usia saya saat ini sudah memasuki 69 tahun, sementara usia suami saya, H. Ahmad Chatib Naseh, sudah 72 tahun. Anak saya lima orang (H Moh Reza Hafiz, H Dailami Firdaus SH, LLM, MBA, Dra Hj Nurfitria Farhana, Lily Kamalia Ihsana SE, dan Syifa Fauzia - red), serta jumlah cucu saya adalah 13 orang. Jadi kalau ditanya tentang keikutsertaan sebagai peserta asuransi, malah mungkin jawaban saya adalah pemikiran tersebut sudah terlambat. Apalagi, saya ini kelewat sibuk dengan berbagai macam aktivitas seperti mengurus sekolah, pondok pesantren, pendidikan tinggi, majelis taklim dan masih banyak lainnya,” paparnya.

Selama ini, akunya, kalau ia tergolek sakit, tidak pernah mempergunakan atau mengajukan klaim asuransi kesehatan karena saya memang bukanlah pesertanya. “Biasanya, saya selalu membayar biaya kesehatan secara cash. Insya Allah, dana cash itu selalu ada,” ujar Tutty yang pernah dianugerahi gelar Profesor dari Federation Al Munawwarah, Berlin, Jerman.

Meski demikian, Tutty setuju bila harus memproteksi aset, semisal kendaraan pribadi. “Kalau asuransi kendaraan, saya memilikinya. Itu pun anak saya yang mengurusnya demi melindugi kendaraan bilamana terjadi hal-hal yang tidak diharapkan, entah itu hilang, rusak dan lainnya. Sedangkan asuransi untuk hunian rumah tinggal, saya tidak punya,” terangnya.

Soal investasi untuk masa depan, bila itu dimaksudkan untuk memberi jaminan perlindungan di hari tua, saya pikir tidak harus secara formal saya miliki dengan menjadi peserta asuransi. Karena, selama ini saya hidup dengan penuh semangat kejuangan. Juga semangat untuk meraih masa depan yang lebih baik. Dalam suasana yang selalu penuh kejuangan inilah, saya sampai-sampai tak sempat untuk memikirkan bagaimana masa depan ini kelak, cukup mengalir saja dengan setiap saat selalu berusaha dan berjuang demi kemaslahatan umat,” kata Tutty yang pernah menerima penghargaan dari Ratu Rania Abdullah, Jordania ini.  (fadli)

 


© Martabat, Juni 2011

Pengutipan sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan judul, tanggal dan sumber:
Tutty Alawiyah: ‘Tak pernah terpikir ikut program asuransi’
http://www.jamsosindonesia.com/kisah/tutty_alawiyah_tak_pernah_terpikir_ikut_program_asuransi
Martabat - www.jamsosindonesia.com, 2019