jaminan sosial indonesia
x

Login

Lupa Password

Kisah - Syaharani: Belum ada Asuransi Khusus untuk ‘Orang Panggung’

Oleh: Jamsos Indonesia 20 May 2011

 

Syaharani, penyanyi Jazz Indonesia yang bernama lengkap Saira Syaharani Ibrahim, lahir 27 Juli 1971 di Batu, Jawa Timur. Sejak kecil, putri dari pasangan Hasan Ali Ibrahim dan Elly Zapantis ini akrab dengan Jazz. Pada tahun 1990, Rani (sapaan akrab Syaharani) makin sering manggung di kampus dan pub.

Di penghujung 1998, vocal Rani begitu ‘hidup’ pada album What a Wonderful World yang digarap bersama Bubi Chen, Benny Likumahuwa, Sutrisno, Cendi Luntungan, dan Oele Pattiselanno. Rani makin melejit namanya lewat album Love (1999), hingga wajar bila kemudian ia mewakili Indonesia pada North Sea Jazz Festival (2001). Karirnya di blantika Jazz makin gemilang dengan menjadi guest star pada concert Al Jarreau, Iskandarsyah Siregar & Folks, Dave Koz, Keith Martin dan Yellow Jackets Indonesia bersama Fourplay.

Rani kemudian berkreasi melalui musik psychedeliclewat album Magma (2002), yang mem-blend nuansa Jazz, Fusion, Ethnic, dan Trip hop. Album solo karir ketiga Rani yakni Syaharani (2004), makin mengeksplorasi natural Jazz talent plus kesempurnaan performanya. Di tahun yang sama, Rani menggelar konser tunggal gratis berjudul Cross Genre Music di TIM, Jakarta.

Rani juga menjajal acting melalui pementasan teater Madame Dasimadan Galery of Kisses, hingga debut layar lebarnya pada film Garasi (2006). Pada tahun yang sama, Rani masuk dapur rekaman lagi dengan mengandeng Achmad ‘Didit’ Fareed dan Donny Suhendra, mantan gitaris Krakatau. Kolaborasi mereka diberi julukan Syaharani dan Queenfireworks (ESQI:EF) dengan merilis album perdana, Buat Kamu. Disusul, album Anytime (2010).

Kini, Rani tengah menyiapkan album ketiga ESQI:EF. “Saya sibuk Mas, konser sana-sini dan membuat lagu untuk album berikut, selain terus menulis puisi yang sudah jadi kebiasaan sejak SD,” ujarnya kepada jamsosindonesia.com.

Bicara perkembangan industri musik nasional, penyanyi yang masih single ini berujar, sudah sangat cemerlang baik kemunculan talenta, pengetahuan musisi dan ragam karyanya. “Tapi, perkembangan musik dari sisi perkembangan industrinya belum berimbang dengan sistem perlindungan atau pengaturan industri itu sendiri. Masih banyak perbaikan sisi peraturan yang diperlukan bagi artis dan pelaku seninya,” keluh Rani.

Perlindungan karya cipta misalnya, tuding Rani. “Sosialisasi mengenai tahapan untuk bisa mendapatkan perlindungan itu masih kurang. Memang, melalui internet bisa kita temukan, dan bisa mendaftar. Tapi para musisi atau para manager-nya harus sangat agresif. Karena enggak ada organisasi persatuan artis yang menjadi perwakilan. Biaya, dan segala tata cara yang berkaitan juga manfaat apa saja yang didapat dengan pengurusan perlindungan hak dan atau karya cipta,” tuturnya seraya berharap agar perlindungan karya cipta bisa dilakukan online dengan verifikasi terjaga.

Bagi Rani, yang memiliki jadwal manggung padat, aspek perlindungan bagi penyanyi seharusnya dapat diproteksi dengan klausa yang fair. “Klien yang baik, biasanya selalu sepakat dengan adanya standar klausa keamanan dalam naskah persetujuan kerjasama. Sama seperti kita naik pesawat, maskapai penerbangan pun punya klausa pertanggungan bagi para passenger,” sebutnya.

Perlindungan asset pribadi, menurut Rani, mutlak diperlukan. “Saya punya asuransi kendaraan demi proteksi itu. Tapi, soal asuransi jiwa, saya sedang memikirkan plus minusnya. Sebab sekarang ini banyak yang dikombinasikan dengan reksadana dan cukup menarik. Sudah ada yang saya pelajari klausanya,” aku Rani.

Kenapa masih ragu untuk menjadi peserta asuransi jiwa, jawab Rani, karena sampai hari ini, Perusahaan Asuransi Jiwa yang klaim asuransinya tercepat dan tidak banyak birokrasi masih beberapa saja. “Dari info yang saya dapat, kalau ada klaim, maka sisanya harus menunggu cukup lama. Jadi saya pikir, terlalu ribed. Karena itu, kalau kita rajin menabung juga akan sama saja, bisa untuk membayar biaya jika sakit,” terangnya.

Ke depan, Rani berharap, ada asuransi khusus yang memproteksi artist (seniman). “Setahu saya, enggak ada asuransi khusus untuk ‘orang panggung’ di Indonesia. Mungkin karena pendapatannya juga enggak semua besar. Misalnya, seniman tabuh di pedalaman, enggak ada yang peduli,” ujarnya.

Kata Rani lagi, untuk para seniman atau pekerja kreatif, yang berdasarkan beberapa macam talent, olahraga dan sebagainya, masih belum ada asuransi khusus. “Saya belum pernah melihat ada klausa tertentu dari asuransi untuk memproteksi mereka. Misalnya, pemain tabuh di daerah-daerah, saya rasa Perusahaan Asuransi juga enggak melihat kebutuhan bahwa mereka perlu dilindungi. Saya pikir, Perusahaan Asuransi hanya cari klien yang mampu untuk yang dilindungi. Sama halnya dengan bisnis, ada target yang harus dicapai oleh sales. Jadi intinya, let’s do business,” paparnya.  (fadli)

 


Martabat, Mei 2011

Pengutipan sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan judul, tanggal dan sumber:
Syaharani: Belum ada Asuransi Khusus untuk ‘Orang Panggung’
http://www.jamsosindonesia.com/kisah/syaharani_belum_ada_asuransi_khusus_untuk_orang_panggung
Martabat - www.jamsosindonesia.com, 2016