jaminan sosial indonesia
x

Login

Lupa Password

Kisah - Ray Rangkuti: Belum Tertarik Menjadi Peserta Asuransi

Oleh: Jamsos Indonesia 01 July 2011

 

Banyak agen-agen pemasaran asuransi yang menginginkan dirinya menjadi peserta program Asuransi. “Agen pemasaran asuransi swasta sering menawarkan saya untuk menjadi peserta. Tapi jujur, saya belum tertarik. Selain karena ribet, banyak cerita mengenai sulitnya peserta Asuransi untuk menerima haknya saat pengajuan klaim,” kata pengamat politik muda, Ray Rangkuti alias Ahmad Fauzi.

Tak ada yang tahu bahwa nama aslinya adalah Ahmad Fauzi. Bahkan saat DPR melaksanakan fit and proper test dalam rangka menjaring calon anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), namanya sempat menjadi guyonan selama lebih kurang 15 menit.

 “Anggota Dewan banyak yang bertanya-tanya karena bingung, perihal perbedaan nama asli dengan nama populer. Sebenarnya nama saya siapa, Ray Rangkuti atau Ahmad Fauzi?” ujarnya sembari terkekeh mengenang peristiwa tersebut.

Ray Rangkuti, sapaan akrabnya, kini menjabat sebagai Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Nasional. Pria kelahiran Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, 20 Agustus 1969 ini mengatakan, Rangkuti adalah marga yang melekat pada namanya. Sedangkan Ray, merupakan singkatan dari marga tersebut.

“Seperti orang Batak, orang Madina juga lebih suka dipanggil dengan marganya. Tapi, nama Rangkuti terlalu panjang, akhirnya disingkat jadi Ray. Di kampung memang Rangkuti disingkat jadi Ray atau Rkt. Supaya keren Ray saja, jadinya Ray Rangkuti,” kata pengamat politik muda ini.

Selama menjadi aktivis yang kerap mengkritik kebijakan pemerintah, Ray sering mendapat ‘gangguan’. Kala masih mahasiswa, dia pernah dikuntit orang yang dia duga sebagai intel. Hingga kini, dirinya beberapa kali mendapat telepon dari nomor tidak dikenal yang mengumbar caci maki. Namun sebagaimana aktivis lainnya, Ray sudah kebal. Ancaman atau makian tidak membuatnya gentar untuk terus mengkritisi pemerintah.

Ray mengatakan, dirinya tidak bermaksud mencari-cari kesalahan pemerintah. “Saya hanya ingin menjalankan perannya sebagai bagian dari masyarakat sipil. Kalau kemudian, beberapa waktu lalu ada peristiwa bom buku yang merebak, saya tidak takut akan menjadi salah satu sasaran. Cuma satu yang saya takuti, Allah SWT,” ujar alumnus Jurusan Aqidah dan Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta ini.

Belum tertarik dengan Asuransi

Dengan padatnya rutinitas kerja yang menantang risiko, ternyata Ray menyatakan belum tertarik menjadi peserta dari program Asuransi. “Saya belum tertarik menjadi peserta program Asuransi jenis apapun, misalnya asuransi jiwa, asuransi kesehatan dan lainnya. Selain karena tidak tertarik, dilihat dari banyak kasus-kasus yang mengemuka dalam bidang asuransi, ternyata ada banyak juga orang-orang yang tidak memperoleh hak-haknya pada saat klaim asuransi diajukan. Inilah yang membuat saya berkesimpulan bahwa tidak mudah untuk mengurus klaim asuransi,” jelasnya.

Sekalipun premi asuransi sudah dibayarkan secara rutin, tapi menurut Ray, banyak orang yang menghadapi kendala justru pada saat mengurus klaim asuransinya. “Premi sudah dibayarkan, tapi klaim sulit dibayarkandengan beraneka macam alasan. Ini yang membuat saya tidak tertarik untuk menjadi peserta program asuransi,” ungkap anak kesembilan dari sepuluh bersaudara pasangan H AM Syarif Rangkuti dan Hj Saudah Nasution ini.

Tak hanya program asuransi jiwa dan asuransi kesehatan yang belum diminati, bahkan asuransi kendaraan, asuransi property pun sama sekali belum membuat hati mantan Koordinator Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) tahun 2008 ini tertarik untuk mendaftarkan diri sebagai peserta. “Saya tidak terlalu suka dengan jaminan-jaminan seperti itu,” tukasnya pendek.

Di satu sisi, program asuransi kesehatan tentu saja memberikan jaminan perlindungan kesehatan bila para pesertanya menderita sakit, membutuhkan pertolongan medis, pengobatan dan hal-hal terkait lainnya. Jaminan pasti atas perlindungan kesehatan yang demikian pun, ternyata belum dapat meyakinkan Ray untuk menjadi peserta asuransi kesehatan. “Kalau sakit, saya bayar sendiri saja biaya pengobatannya. Saya pilih berobat ke fasilitas kesehatan yang murah-murah saja. Apalagi, bila menderita sakit, saya ini termasuk yang lebih suka berobat ke tempat-tempat pengobatan alternatif,” aku pengamat politik yang mengidolakan proklamator Republik Indonesia, Bung Hatta.

Kini, Pemerintah bertekad melaksanakan Undang-Undang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan bersama DPR hendak mengesahkan RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), sebagai warganegara Ray teramat bersuka-cita. “Selain karena saya belum memiliki jaminan sosial bagi diri pribadi, Insya Allah saya termasuk yang mendukung dan memperjuangkan pemberlakuan jaminan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.

Menjadi kewajiban Negara, kata Ray, untuk melindungi warganegaranya. “Termasuk, memenuhi kebutuhan jaminan sosial dasar yang memang sangat dinanti-nantikan oleh seluruh rakyat. Nantinya, begitu ada bayi yang lahir di Indonesia, maka sudah menjadi tugas Negara untuk memberikan perlindungan sekaligus memberi jaminan sosial dasar,” harapnya.

Penyelenggaraan SJSN, menurut Ray, juga dapat mengakhiripraktik money politic. “Pemberlakuan jaminan sosial secara nasional akan menghindari praktik-praktik ‘politik uang’ yang dilakukan oleh banyak kepala daerah, bahkan oleh Pemerintah secara menyeluruh. Misalnya, dengan program pemberian bantuan-bantuan sosial tetapi dengan niat agar kekuasaan ini menjadi langgeng. Padahal, pemberian jaminan sosial bagi seluruh rakyat adalah merupakan kewajiban Negara, bukan dimaksudkan untuk kepentingan politik tertentu,” terangnya. (fadli)

 

© Martabat, Juli 2011

Pengutipan sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan judul, tanggal dan sumber:
Ray Rangkuti: Belum Tertarik Menjadi Peserta Asuransi
http://www.jamsosindonesia.com/kisah/ray_rangkuti_belum_tertarik_menjadi_peserta_asuransi
Martabat - www.jamsosindonesia.com, 2016