jaminan sosial indonesia
x

Login

Lupa Password

Kisah - Ratna Sarumpaet: “Penting, Asuransi Pendidikan untuk Cucu-Cucuku”

Oleh: Jamsos Indonesia 17 June 2011

 

Meski tak terlalu memusingkan untuk menjadi peserta program asuransi bagi dirinya, tapi Ratna Sarumpaet menganjurkan agar cucu-cucunya diikut-sertakan dalam program jaminan Asuransi Pendidikan. “Saya menganjurkan Asuransi Pendidikan bagi cucu-cucuku,” katanya.

“Sekarang ini saya sedang mempersiapkan film layar lebar, based on my novel yang berjudul ‘Maluku Kobaran Cintaku’. Doakan saja semuanya berjalan lancar,” pinta Ratna Sarumpaet, seniman aktivis politik dan Hak Asasi Manusia (HAM) kepada jamsosindonesia.com.

Novel yang dimaksud Ratna adalah bukan novel sembarangan. Karya sastra ini ditulis dengan setting ‘berat’ yakni konflik Maluku, dan berkisah tentang enam anak muda yang terjebak dalam prahara konflik yang teramat memprihatinkan karena meruntuhkan bangunan kerukunan antarsuku dan agama. Kelompok anak muda inilah yang terlibat aktif dalam upaya menolong para korban pertikaian, sambil menggaungkan sikap politiknya yakni menghentikan konflik dan menciptakan perdamaian.

Sikap politik para anak muda ini membuat mereka mempertaruhkan jiwa dan raga karena justru dianggap sebagai musuh oleh kedua pihak yang bertikai. Hasilnya, mereka diintimidasi dan diteror oleh semua pihak yang berkepentingan agar konflik Maluku menjadi terus berkepanjangan.

Begitulah gaya Ratna, selalu meledak-ledak dan jeli dalam melihat berbagai kebijakan yang berimbas luas bagi masyarakat secara ‘hitam-putih’. Melalui novel fiksinya pula, penerima “The Female Special Award for Human Rights” (1999) dari The Fondation of Human Rights in Asia ini mengingatkan urgensi saling menghormati antar agama, ras dan suku. Sekaligus, Ratna mengingatkan kembali betapa arifnnya nilai humanitas pela gandong, yang telah berabad-abad sukses merekatkan berbagai suku, ras, dan agama di Maluku. Ratna pun menyuarakan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai realitas Indonesia yang tak boleh dipungkiri.

Tercatat, Ratna juga pernah menulis naskah drama bertajuk Rubayat Umar Khayam (1974), Dara Muning (1993), Marsinah, Nyanyian Dari Bawah Tanah (1994), Terpasung (1995), Pesta Terakhir (1996), Marsinah Menggugat (1997), ALIA, Luka serambi Mekah (2000), Anak-anak Kegelapan (2003), serta Jamila dan Sang Presiden (2006).

Semangat Nasionalisme Merah Putih dalam jiwa Ratna kian membara manakala mendapati ada ketidakadilan, penindasan dan kesewenang-wenangan. Termasuk, pendapatnya ketika disampaikan bahwa seluruh rakyat menginginkan agar segera dilaksanakan amanat UU No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). “Itu bagus sekali,” serunya mendukung.

Tapi, katanya, persoalan di Indonesia bukan semata ‘ada program jaminan sosial atau tidak’. “Persoalan kita masih persoalan karakter manusia. Manusia yang melaksanakan program jaminan sosial masih belum punya jiwa sosial. Tidak jujur. Saya, bersama ‘Ratna Sarumpaet Crisis Center (RSCC) masih harus terus membantu rakyat yang tidak mampu berobat, padahal program jaminan sosial untuk Kesehatan sudah lama berlaku. Kesulitan mereka selalu sama yakni birokrasi, pejabat pelaksana program yang korupsi atau nepotis, dan lainnya,” tutur Ratna yang lahir pada 16 Juli 1949 di Tarutung, Kabupaten Toba, Sumatera Utara.

Apa yang disuarakan Ratna memang tak berlebihan. Bermunculan suara yang menuduh Pemerintah terkesan ragu-ragu dan hanya mengulur-ulur waktu (buying time) dalam mensahkan RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dalam raker Panja bersama DPR. “Persoalan Pemerintah, persoalan nawaitu (niat). Kalau mau, bikin dan kerja keras. Negeri ini kaya raya, tapi kok bisa miskin, itu juga soal nawaitu,” tukasnya.

Ratna menyatakan sepakat bila dikatakan, selama 66 tahun usia Indonesia merdeka, jaminan sosial nasional belum dapat terwujud. Kalau pun kini telah ada empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menyelenggarakan program jaminan sosial, hasilnya belum menyeluruh kepada seluruh rakyat termasuk kaum petani. “Ha ha ha... memang sudah ada penyelenggara Negara yang amanah? Kalau sudah ada sajalah baru kita bicara. Berhenti saja dulu melakukan tindak korupsi, maka itu sudah menjadi jaminan sosial yang pasti akan meringankan beban rakyat, termasuk petani,” tuturnya.

Menganjurkan Asuransi Pendidikan

Di lain hal, Ratna tak menampik bahwa keberlangsungan dan Jaminan Pendidikan bagi generasi penerus bangsa demi meraih masa depan gemilang menjadi sesuatu yang wajib diprioritaskan. “Karena itulah, maka Pendidikan untuk cucu-cucuku, aku anjurkan diasuransikan,” ujar Ibu dari empat anak (Mohammad Iqbal Alhady, Fathom Saulina, Ibrahim Alhady, Atiqah Hasiholan) dan Nenek dari lima cucu yang semuanya laki-laki ini.

Meski menyadari pentingnya Asuransi Pendidikan bagi cucu-cucunya, Ratna mengaku tidak menjadi peserta program asuransi dari provider mana pun. “Aku enggak ikut program asuransi. Karena aku tahu Tuhan akan memberi aku kehidupan yang aku butuhkan. Hidupku aku ‘asuransikan’ pada Tuhanku, ha ha ha…,” katanya sembari terkekeh.

Meski demikian, Ratna tak menampik kalau dirinya menjatuhkan pilihan terbaik dengan mengasuransikan mobil pribadinya. “Kalau untuk mobil, saya memang mengasuransikan, dan belum pernah mengajukan klaim asuransi, sehingga saya tak tahu bagaimana pelayanan yang diberikan oleh petugas penyelenggara asuransi tersebut. Sedangkan untuk rumah tinggal, saya tidak mengasuransikannya,” jelas Ratna.

Dalam denyut nadi kehidupan Ratna memang selalu lekat dengan penghambaan yang seharusnya kepada Yang Maha Kuasa. Bahkan, kalau pun kelak harus menghadapi atau mempersiapkan suasana ketidak-nyamanan secara ekonomi di masa depan, bukan bentuk tabungan deposito atau investasi yang dipilihnya. Ia justru mengembalikan semua resiko ancaman ketidak-nyamanan ekonomi itu kepada Tuhan. “Aku hidup apa adanya. Tidak takut mati kelaparan karena aku percaya tiap orang sudah ada rezekinya masing-masing,” pungkas Ratna yang akhir 2010 lalu sempat diberitakan hendak diajak menunaikan ibadah haji oleh putri tercinta, Atiqah.  (fadli)

 

© Martabat, Juni 2011

Pengutipan sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan judul, tanggal dan sumber:
Ratna Sarumpaet: “Penting, Asuransi Pendidikan untuk Cucu-Cucuku”
http://www.jamsosindonesia.com/kisah/ratna_sarumpaet_penting_asuransi_pendidikan_untuk_cucu-cucuku_
Martabat - www.jamsosindonesia.com, 2016