jaminan sosial indonesia
x

Login

Lupa Password

Kisah - Guru Swasta dan Honorer Dambakan Jaminan Kesehatan dan Jaminan Pensiun

Oleh: Jamsos Indonesia 29 March 2011

Guru merupakan profesi yang mulia dan tak bisa dianggap remeh. Berkat pendidikan yang diajarkan oleh seorang guru, tak jarang tercipta orang-orang yang sukses dan berhasil. Maka sangatlah pantas bila guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Akan tetapi nasib guru di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Selain adanya perbedaan antara guru pegawai negeri sipil (PNS) dengan guru yang non PNS, gaji para guru pun sangatlah minim.

Selasa (15/3), perjalanan JamsosIndonesia.com kali ini mengarah menuju sekolah SMP Muhammadiyah 8, Tanah Kusir, Jakarta Selatan, untuk bertemu salah satu guru non PNS. Saryoto, laki-laki kelahiran Tulungagung, 11 Mei 1966 ini adalah guru bidang Matematikayang sudah bekerja di SMP Muhammadiyah 8 sejak tahun 2000. Sebelumnya Saryoto sempat mengajar di sekolah SMP Al Fajar, SMP Muhammadiyah 35 dan SMK Bina Insan Mandiri.

Saryoto sendiri mulai menjadi guru sejak tahun 1987. Saat itu ia memutuskan untuk mencari pekerjaan dengan merantau ke Ibukota. Begitu menginjakkan kakinya di Jakarta, nasib baik belum menghampiri Saryoto. Ijazah guru yang ia miliki belum dilirik oleh sekolah yang ada di Jakarta. “Saat itu sambil menunggu panggilan kerja saya hanya menjadi guru privat aja,” kenang Saryoto.

Memasuki tahun 1994, Saryoto akhirnya mengajar di sekolah SMP Al Fajar, Gandaria, Jakarta Selatan. Di SMP Al Fajar, Saryoto hanya menjadi guru honor dengan gaji sebesar Rp 250 ribu perbulan. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, Saryoto tetap mengajar sebagai guru bimbingan belajar dan privat. Pada tahun 1998, Saryoto mengajar di SMP Muhammadiyah 35, Cipulir, Jakarta Selatan. Di tempat barunya ia mengajar, Saryoto mendapat penghasilan yang lebih baik, yaitu Rp 700 ribu perbulan. Saryoto akhirnya memutuskan untuk tidak lagi mengajar di SMP Al Fajar dan fokus pada satu sekolah.

Namun karena kebutuhan ekonomi, ayah dua anak ini rela bekerja di tiga tempat. Selain di sekolah SMP Muhammadiyah 35, saat itu ia menjadi guru freelance di SMP Muhammadiyah 8, Tanah Kusir, Jakarta Selatan dan SMK Bina Insan Mandiri, Srengseng, Jakarta Barat. Meski sudah mengajar di tiga tempat Saryoto hanya menerima bayaran sebesar Rp 1,4 juta perbulan. Beruntung ia memiliki istri, Peni Pusposari (40), yang bekerja sebagai administrasi di sebuah bengkel mobil, sehingga dapat membantu mencukupi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan kedua anaknya, Firsty Fridani (12) dan Adilla Secio Meilandri (6).

Pada tahun 2007, Saryoto memutuskan hanya mengajar di SMP Muhammadiyah 8. Keputusan itu ia ambil lantaran ia telah diangkat sebagai guru tetap dengan bayaran Rp 2,1 juta perbulan. Selain itu masalah kesehatan juga menjadi pertimbangan bagi Saryoto. Karena pada tahun 2005 Saryoto pernah dirawat di RS Sari Asih, Cileduk, Tangerang dan RS Pasar Rebo akibat selaput paru-parunya yang jebol. Saat itu Saryoto harus merogoh kocek sebesar Rp 15 juta untuk biaya pengobatan. “Untuk membayar perawatan rumah sakit, saya banyak dibantu oleh sanak saudara dan orangtua murid yang peduli sama saya,” aku Saryoto.

Saryoto mengaku bahwa selama ini ia tidak memiliki jaminan apapun. Di sekolah Muhammadiyah 8, Saryoto hanya diberi kartu kesehatan bernama Simphony. “Bila memiliki kartu tersebut biaya untuk periksa ke dokter umum dan dokter gigi dapat potongan Rp 150 ribu, sedangkan untuk periksa laboratorium dapat potongan Rp 100 ribu,” jelasnya. Namun kartu kesehatan tersebut hanya berlaku pada rumah sakit Muhammdiyah saja. Meski demikian Saryoto mengaku bersyukur karena masih mendapatkan kartu kesehatan.

Saryoto merasa kecewa terhadap Pemerintah yang tak memberikan jaminan pensiun terhadap guru swasta. Menurut Saryoto, seharusnya Pemerintah memperhatikan kesejahteraan guru, tanpa membedakan antara guru pegawai negeri sipil (PNS) dengan yang non PNS. “Seharusnya Pemerintah memberikan jaminan pensiun terhadap kita (guru swasta). Kenapa harus ada perbedaan? Padahal kita juga bayar pajak dan ikut mencerdaskan bangsa,” tegas Saryoto geram.

Berbeda dengan Saryoto, Chanafi adalah guru honor yang bekerja di SD Muhammadiyah 3, Ciledug dan SD Madrasah Islamiyah Tarbiyah, Pondok Aren. Laki-laki kelahiran Kebumen, 1 Januari 1950 ini mengaku tidak memiliki jaminan apapun selama menjadi guru sejak tahun 1978. Gaji perbulan yang ia terima selama mengajar di dua sekolah sebesar Rp 1,2 juta perbulan. Dengan penghasilan, Chanafi harus menghidupi ketiga anaknya. “Dulu mantan istri bekerja sebagai pedagang sayuran dan masih suka bantu saya. Kini saya yang harus menghidupi keluarga saya,” ungkap Chanafi sembari memperbaiki letak pecinya.

Meski di kampungnya Chanafi memiliki tanah seluas 200 meter persegi, namun asetnya tersebut dikelola oleh adiknya. Sampai saat ini ia bahkan tidak pernah menikmati hasil dari tanahnya tersebut. Apabila ia atau salah satu anaknya mengalami sakit, biasanya Chanafi meminjam uang kepada pihak sekolah. Chanafi sebenarnya ingin sekali memiliki asuransi kesehatan untuk mengurangi beban hidupnya. Namun karena faktor usia dan tentunya penghasilan yang minim, maka ia mengurungkan niatnya untuk memiliki asuransi kesehatan.

Sementara itu pihak yayasan tempat ia bekerja tidak memberikan jaminan kesehatan. Untungnya sampai saat ini pihak yayasan masih mempercayai Chanafi sebagai guru, meskipun ia sudah memasuki usia pensiun. Namun bila nantinya memang harus pensiun, Chanafi berencana ingin membuka warung. Hal itu terpaksa akan ia lakukan demi menyambung hidup keluarganya. “Kalau memang sudah pensiun, rencana saya sih ingin buka warung kecil-kecilan. Maklum guru honor seperti saya ini tidak bisa menggantungkan nasib kepada Pemerintah yang hanya memberikan jaminan pensiun kepada guru PNS,” papar Chanafi. Egie

 


© Martabat, Maret 2011

Pengutipan sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan judul, tanggal dan sumber:
Guru Swasta dan Honorer Dambakan Jaminan Kesehatan dan Jaminan Pensiun
http://www.jamsosindonesia.com/kisah/guru_swasta_dan_honorer_dambakan_jaminan_kesehatan_dan_jaminan_pensiun
Martabat - www.jamsosindonesia.com, 2016