jaminan sosial indonesia
x

Login

Lupa Password

Kisah - Didi Petet: ‘Beri Jaminan Sosial untuk Seniman’

Oleh: Jamsos Indonesia 24 June 2011

 

Pemerintah dihimbau agar lebih peduli akan nasib para seniman karena mereka telah bekerja dan berdiri di garis depan untuk memajukan seni-budaya nasional. Kepedulian budaya harus ditunjukkan Pemerintah, seru Didi Petet, diantaranya dengan memberikan jaminan (perlindungan) sosial kepada para seniman.

Aktor senior, Didi Widiatmoko alias Didi Petet, ternyata sangat peduli atas perkembangan dan kemajuan pendidikan anak-anaknya. Terbukti, di sela kesibukannya, Didi menyempatkan diri hadir pada acara pengumuman kelulusan dan wisuda putra bungsunya, Muhammad Batara Irjago, di SD Islam Al Syukro, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (18/6) sore.

Alhamdulillah, hasil nilai kelulusannya baik. Saya bersyukur sekali atas segala prestasi yang telah diraih oleh putra saya ini,” ujarnya kepada jamsosindonesia.com.

Menurut Didi, dirinya memprioritaskan jalur pendidikan yang terbaik bagi empat anaknya (Dayana, Sabana, Nabila, dan Batara). Pendidikan adalah prioritas utama bagi anak-anak. “Karena itulah, saya sangat mendukung sekali manakala anak-anak akan diikut-sertakan sebagai peserta program Asuransi Pendidikan,” jelas pemeran Emon dalam Film ‘Catatan si Boy’ (1987), dan Kabayan dalam Film ‘Kabayan Saba Kota’ (1989) ini.

Meski menyadari pentingnya Asuransi Pendidikan bagi anak-anaknya, kata Didi, untuk hal teknis dan kelanjutan kepesertaan asuransi, ia mempercayakan sepenuhnya keputusan tersebut kepada sang istri, Uce Sriasih. “Untuk mengimplementasikan kepesertaan atas program Asuransi Pendidikan ini, saya memberi kepercayaan kepada istri untuk memutuskan mana Asuransi Pendidikan terbaik yang menjadi pilihannya. Untuk hal-hal teknis seperti ini, saya nyaris tidak tahu-menahu, tapi saya mendukung apapun keputusan istri saya untuk mengikut-sertakan anak-anak pada program Asuransi Pendidikan,” tuturnya.

Berikan Jaminan Sosial Bagi Seniman

Sebagai aktor senior yang berjiwa sosial dan ingin terus berbagi ilmu, Didi memahami benar bahwa ada sejumlah seniman nasional, yang juga rekan-rekan seprofesinya, kerapkali terhimpit musibah manakala terjadi ketidak-nyamanan ekonomi di masa senjanya. Sehingga tak urung, bantuan dan uluran tangan dermawan terutama dari kalangan seprofesi amat sangat dinantikan. “Salah satu penyebabnya, karena para seniman ini kurang menyadari arti penting dari jaminan perlindungan sosial, misalnya dengan mengikut-sertakan diri pribadinya dalam program asuransi,” ujar pria kelahiran Surabaya, 12 Juli 1956 ini.

Didi menilai, masalah ketidak-nyamanan secara ekonomi di masa senja bagi kalangan seniman, pekerja seni dan budaya, sebenarnya kembali kepada kesadaran dan kepedulian kalangan seniman itu sendiri. Selain itu, berimbas juga kepada kepedulian Pemerintah agar lebih memperhatikan para pekerja seni dan budaya nasional. “Sebetulnya, pandai-pandainya seniman itu sendiri dalam mempersiapkan diri dan keluarganya atas segala sesuatu yang bakal terjadi di masa yang akan datang. Selain itu, kondisi demikian juga lebih bergantung kepada Pemerintah itu sendiri. Harusnya, ada kepedulian dari Pemerintah terhadap nasib dan masa depan para pekerja seni dan budaya kita,” harapnya.

Kalaulah kemudian para pekerja seni dan budaya dianggap sebagai pekerja di sector informal, menurut Didi, justru hal tersebut menjadi tantangan dan tugas yang harus diemban oleh Pemerintah agar lebih memperhatikan nasib dan masa depan para seniman nasional. “Bukankah mereka ini sudah bekerja untuk kesenian dan kebudayaan nasional. Seharusnya, mereka lebih diperhatikan lagi oleh Pemerintah. Apalagi, mereka telah bekerja, berjuang untuk Negara ini dalam hal memajukan dan melestarikan seni-budaya bangsa. Mereka telah berdiri di garis depan dalam bidang seni-budaya, namun kepedulian Pemerintah dalam hal pemberian jaminan sosial, nyata-nyata belum sampai kepada mereka. Sekali pun para seniman ini hanya dianggap sebagai pekerja di sektor informal, justru disinilah harus muncul pemikiran serius oleh Pemerintah guna lebih peduli kepada mereka,” prihatin pemain Film ‘Bebek Belur’ (2010) ini.

Didi melanjutkan, Pemerintah hendaknya mulai mempedulikan aspek budaya, termasuk kepada para seniman-seniman nasional yang hingga kini belum memperoleh jaminan sosial. “Kondisi seperti ini membuktikan bahwa memang kepedulian budaya itu belum sampai kepada Pemerintah. Kalau kepedulian budayanya ada, tak mungkin ada kondisi carut-marut begini,” tukasnya.

Belum Ada Langkah Bersama

Walaupun tuntutan atas perbaikan nasib para pekerja seni dan budaya telah kerapkali diungkapkan, namun Didi mengakui, belum pernah ada langkah secara bersama-sama untuk mendesak pemberian jaminan sosial bagi kalangan seniman nasional. “Belum pernah, para seniman mendesak kepada Pemerintah untuk diperhatikan terkait pemberian jaminan sosial,” ujar pemain Film ‘Di Bawah Lindungan Ka’bah’ (2011) ini. 

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, Didi mengakui bahwa harapan para pekerja seni-budaya agar Pemerintah lebih peduli atas nasib mereka, termasuk memberikan jaminan sosial kini semakin mulai nampak. “Kesadaran itu kini terus tumbuh,” tukas Didi yang kini tengah menjalankan bisnis sampingan bersama sang istri di industri garmen. Salah satu outlet busananya telah dibuka di ‘Kota Gudeg’ Yogyakarta, dengan animo konsumen yang luar biasa positif.  (fadli)

 

© Martabat, Juni 2011

Pengutipan sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan judul, tanggal dan sumber:
Didi Petet: ‘Beri Jaminan Sosial untuk Seniman’
http://www.jamsosindonesia.com/kisah/didi_petet_beri_jaminan_sosial_untuk_seniman
Martabat - www.jamsosindonesia.com, 2019