jaminan sosial indonesia
x

Login

Lupa Password

Kisah - Ade Namnung pernah kecewa dengan layanan Asuransi Kesehatan

Oleh: Jamsos Indonesia 27 May 2011

Penyelenggara asuransi bisa mendadak pelit. Padahal, diagnosa Dokter mengatakan, sakit ‘Polip Usus’. Tapi pihak penyelenggara asuransi menganggap, sakit ‘Wasir’.

Komedian dan presenter Syamsul Effendi, memang lebih dikenal dengan nama Ade Namnung. Pria bertubuh tambun ini lahir di Jakarta, 10 April 1977. Sosoknya seringkali muncul di layar kaca untuk memerankan adegan humor termasuk di acara ‘Tawa Sutra’ (ANTV).

Kini, Ade masih terikat kontrak sebagai pembawa acara di sejumlah show televisi. “Saya masih sibuk sebagai host acara musik ‘Dahsyat’ (RCTI) dan tayangan masak-memasak ‘Foody with Rudy Choirudin’ (ANTV). Selain itu, masih menjadi bintang tamu di sejumlah acara, dan juga sedang bersiap memainkan peran untuk tayangan khusus di bulan suci Ramadhan di RCTI dan ANTV,” tuturnya kepada jamsosindonesia.com.

Jaminan Sosial Sangat Diperlukan

Sebagai pekerja seni yang super sibuk, Ade sadar untuk membekali dirinya dengan proteksi atau perlindungan sosial. “Bagi saya, jaminan sosial bagi seseorang itu amat sangat diperlukan. Hal ini penting karena sebagai manusia yang lema, kita semua tidak tahu apa yang bakal terjadi pada diri, jiwa, nyawa, kesehatan, asset dan bahkan keluarga kita tercinta. Artinya, segala sesuatu bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan itu adalah kehendak dari Allah SWT,” ujar Ade.

Menyadari kelemahan itu semua, Ade mengaku, dirinya butuh perlindungan atau jaminan sosial. “Caranya, dengan ikut menjadi peserta asuransi. Saya pikir ini penting bahkan menjadi suatu keharusan, untuk melindungi diri kita sendiri dan keluarga, apabila terjadi sesuatu hal yang sangat tidak diharapkan. Misalnya, sakit parah, kecelakaan lalu-lintas atau saat bekerja, kehilangan harta benda dan lainnya,” aku Ade.

Tak aneh bila kemudian Ade menyebut dirinya telah menjadi peserta dari dua provider penyelenggara asuransi. “Tercatat, dua-duanya saya menjadi peserta asuransi untuk program covering (jaminan) kesehatan dan asuransi jiwa. Sekurang-kurangnya, saya sudah sejak sepuluh tahun yang lalu menjadi peserta asuransi tersebut,” ungkapnya.

Meski demikian, kata Ade, saat pertama kali diajak untuk mengikuti program asuransi dirinya sempat kebingungan dengan segala format kalkulasi atau penghitungan premi, klaim dan sebagainya. “Ditambah lagi, staf marketing-nya yang memberitahu segala penghitungan itu dengan bahasa yang ‘berbunga-bunga’. Tapi akhirnya, lama kelamaan saya menjadi paham bahkan kini beranggapan bahwa adanya asuransi bagi diri kita, yang memberikan aneka tawaran program perlindungan adalah sangat worth it, berharga sekali dan terasa manfaat menjadi peserta asuransi,” terangnya.

Pernah Kecewa

Masalahnya, kata Ade, tidak selamanya bahasa yang ‘berbunga-bunga’ dari staf marketing asuransi tadi menjadi mudah untuk dilaksanakan pembuktiannya. “Saya pernah kecewa dengan salah satu penyelenggara program asuransi kesehatan (bukan BUMN – red). Pihak asuransi yang saya maksud itu, seolah berusaha untuk ngeles atau menghindar dari kenyataan dan fakta mengenai penyakit tertentu yang diidap oleh pesertanya.Padahal, janjinya dulu sewaktu mengajukan penawaran, jenis penyakit tersebut termasuk dalam penyakit yang di-cover jaminan kesehatan atau klaim asuransinya,” tutur pemilik restoran di kawasan Kemang, Jakarta Selatan ini.

Kekecewaan terhadap penyelenggara asuransi itu, kenang Ade, terjadi tatkala sang ayah, Raymond, menjalani opname di satu rumah sakit. “Sakit yang diderita ayah waktu itu adalah adanya semacam polip usus, dan dikuatkan oleh diagnosa dokter yang terlibat langsung untuk mengobati. Tapi, setelah klaim asuransi kesehatan diajukan ke pihak penyelenggara asuransi, mereka justru tidak mau mengakui diagnosa penyakit tersebut. Dalih mereka justru menganggap penyakit yang dimaksud adalah wasir. Ini jelas sangat mengecewakan kami sekeluarga. Kenapa pihak asuransi seolah mendadak menjadi pelit alias kikir,” katanya dengan kesal.

Mengadu ke IDI

Tak sudi diperlakukan demikian oleh penyelenggara asuransi, lanjut Ade, dirinya memberanikan untuk mengajukan kasus ini ke pihak Ikatan Dokter Indonesia (IDI) demi untuk mencari second opinion yang valid dan lebih formal guna menguatkan hasil diagnosa dokter sebelumnya mengenai penyakit yang diderita sang ayah. “Saya bawa kasus ini ke IDI, hingga akhirnya keluarga kami dianggap sebagai pihak yang benar, khususnya menyangkut kondisi faktual dalam hal medis. Setelah menjalani sejumlah proses bertahap, akhirnya pihak penyelenggara asuransi pun membayarkan klaim asuransi kesehatan untuk ayah. Tapi, pengalaman ini sudah membuat kami kecewa dengan service penyelenggara asuransi tersebut,” akunya.

Ade menuturkan, kondisi demikian berbeda sekali dengan layanan asuransi kendaraan. “Pernah mobil saya rusak akibat mengalami kecelakaan. Sewaktu saya urus klaim asuransinya, sangat mudah dan cepat sekali. Hanya dalam tempo dua minggu, kendaraan saya sudah kembali baik seperti sediakala,” ujarnya.

Sebagai pekerja seni yang tidak memiliki jam dan tempat kerja formal, kata Ade, dirinya sadar untuk mempersiapkan perlindungan secara finansial untuk masa depan. “Istilahnya, kalau saya sudah tidak laku lagi tampil di layar televisi dan dunia hiburan, tentu harus mempersiapkan diri demi masa depan yang lebih baik. Caranya, kini saya melakukan investasi dalam bentuk usaha atau dagang. Saya membuka restoran yang menyajikan masakan Indonesia dan Eropa di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Selain itu, membuka butik online melalui butikbajubesar.com yang menjual busana khusus bagi mereka yang memiliki tubuh berukuran besar seperti saya,” jelasnya.

Yang jelas, kata Ade, dalam berinvestasi, ada baiknya dilaksanakan sesuai dengan minat, hobi, kesenangan dan selain itu tetap berusaha agar menghasilkan pendapatan finansial.  (fadli)

 


Martabat, Mei 2011

Pengutipan sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan judul, tanggal dan sumber:
Ade Namnung pernah kecewa dengan layanan Asuransi Kesehatan
http://www.jamsosindonesia.com/kisah/ade_namnung_pernah_kecewa_dengan_layanan_asuransi_kesehatan
Martabat - www.jamsosindonesia.com, 2016