Perhatikan“Link and Match”

30 April 2013

Perhatikan“Link and Match”

[SEMARANG] Kadin Indonesia meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan kesesuaian kompetensi lulusan lembaga pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha (link and match). Sebab, hal itu sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan pekerja dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Hingga kini, konsep link and matchmasih sebatas jargon yang belum terlihat nyata. Di sisi lain, Kadin menginginkan adanya hubungan industrial yang harmonis dan berkeadilan. Untuk itu, pemerintah hendaknya memperhatikan berbagai masalah ketenagakerjaan agar tidak mengganggu iklim investasi dan perekonomian yang telah tumbuh baik. Berbagai masalah ketenagakerjaan itu antara lain tuntutan penghapusan outsourcing, ketidaksepakatan upah minimum provinsi (UMP), dan pelaksanaan jaminan sosial.

Hal itu terungkap dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kadin Indonesia bertema Membangun Sumber Daya Manusia (SDM) Daerah yang Unggul dan Produktif untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat, di Semarang, Senin (29/4). Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pendidikan dan Kesehatan James T Riady menilai, pendidikan di Indonesia masih terkendala kurangnya link and matchantara lulusan tenaga kerja terdidik dan kebutuhan dunia usaha.

Dengan pergeseran ekonomi ke sektor industri berbasi pengetahuan, pendidikan tinggi sangat berperan untuk memenuhi tuntutan perkembangan dunia yang kian pesat. “Kualitas pembangunan tidak hanya diukur dengan pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita saja, namun juga kualitas SDM, baik kualitas pendidikan maupun kualitas kesehatan masyarakat. Tingginya kualitas SDM akan mempengaruhi produktivitas output nasional,” tutur James Riady. Dia mengingatkan, SDM yang produktif akan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi.

“Untuk menghasilkan tenaga kerja yang produktif, Indonesia memerlukan pendidikan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan pembangunan, serta tingkat kesehatan masyarakat yang memadai,” ungkap James. Saat ini, mayoritas tenaga kerja Indonesia, yakni 74,8 juta orang (68,27% dari total pekerja) hanya berpendidikan sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Kondisi ini menyebabkan rendahnya produktivitas dan daya saing tenaga kerja. Yang lebih memprihatinkan, jumlah penganggur terselubung mencapai 37,2 juta orang atau 33,94% dari sekitar 110 juta pekerja.

Di sisi lain, jumlah wirausahawan di Indonesia jumlahnya masih sedikit sehingga belum mampu mengurangi jumlah pengangguran terbuka dan terselubung. “Selain link and match, yang diperlukan adalah pengembangan kemitraan antara dunia pendidikan dan dunia usaha. Pengembangan kurikulum hendaknya berbasis kewirausahaan di berbagai instansi pendidikan,” ujar James Riady.

Pada kesempatan sama, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Tenaga Kerja Benny Soetrisno mengingatkan perlunya berbagai pelatihan spesifik untuk memenuhi pasar kerja. Pelatihan ini sangat penting bagi tenaga kerja kurang terdidik guna meningkatkan kompetensinya. “Konsep link and match belum diimplementasikan secara baik oleh sektor pendidikan. Indonesia masih mengalami kekurangan tenaga kerja yang berkualitas,” tandas Benny.

Selain untuk kepentingan pasar tenaga domestik, Ketua Komisi Tetap Kebijakan Pendidikan dan SDM Kadin Suharyadi mengatakan, kebijakan pendidikan perlu disiapkan untuk menghadapi Asean Economy Community (AEC) 2015. Pemerintah perlua menyelesaikan masalah tingginya angka pengangguran tenaga kerja terdidik dan terbatasnya pendanaan publik untuk sektor pendidikan. “Pendidikan berdaya saing masih terbatas pada perguruan tinggi tertentu yang memiliki standar internasional. Pemerintah dan stakeholder harus bisa mengembangkan program public private partnership untuk meningkatkan kualitas sektor pendidikan” ungkap Suharyadi. [142]

Sumber: Suara Pembaruan Epaper

Follow Kami di:

Komentar
Email*
Nama
Website

 

Pengutipan sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan judul, tanggal dan sumber:
Perhatikan“Link and Match”
__link_footer__
© Martabat - www.jamsosindonesia.com, 2013