jaminan sosial indonesia
x

Login

Lupa Password

Cakrawala - Jangan Pilih “Kentang Busuk” Sebagai Pemimpin

Oleh: A. A. Oka Mahendra, S.H. (Ahli Peraturan dan Perundang-undangan) 10 January 2014

Tahun 2014 adalah tahun politik. Dalam tahun ini bangsa Indonesia akan melaksanakan ritual demokrasi 5 tahunan yang disebut Pemilihan Umum.

Sejak kemerdekaan bangsa Indonesia telah 10 kali menyelenggarakan Pemilihan Umum DPR dan DPRD. Dan dua kali meyelenggarakan Pemilihan Umum anggota DPD dan Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden secara langsung.

Tahun 2014 ini Pemilihan Umum untuk memilih anggota DPR, DPD dan DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten Kota akan diselenggarakan pada 9 April 2014.

Kemudian pada tanggal 9 Juli 2014 akan diselenggarkan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.

Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden  tahun ini merupakan momentum bersejarah. Karena Presiden Pertahanan Susilo Bambang Yudoyono secara hukum tidak boleh lagi dicalonkan menjadi Presiden RI. SBY sudah 2 (dua) kali berturut-turut memangku jabatan sebagai Presiden RI.

Dengan kata lain pada tahun 2014 akan terjadi proses suksesi kepemimpinan pemerintahan dari tangan SBY ke tangan Presiden terpilih dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden nanti.

Persiapan untuk menghadapi pelaksanaan Pemilihan Umum tahun 2014 telah menghangatkan situasi politik di tanah air. Bahkan menjelang bulan April dan Juli nanti diperkirakan suhu politik akan semakin memanas.

Sekarang Partai Politik Peserta Pemilihan Umum dan calon anggota legislative telah melakukan berbagai aktivitas untuk merebut simpati pemilih.

Partai Politi juga telah “mengelus elus jagonya” untuk dicalonkan sebagai calon Presiden dan calon Wakil Presiden pada Pemilihan Umum bulan Juli nanti.

Ada Partai Politik yang terang-terangan menyebut nama jagonya, ada yang masih menunggu momentum yang dipandang tepat, dan ada pula yang menggelar konvensi.

Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan elektabilitas Partai-Politik, atau calon legislative dan calon Presiden dan calon Wakil Presiden yang bakal berkompetisi dalam Pemilihan Umum 2014 ini.

Lantas apa peranan rakyat, peranan pemilih?

Pemilih ibaratnya makan di restoran siap saji.

Pilihannya terbatas pada menu yang disajikan oleh restoran yang bersangkutan.

Rakyat atau pemilih tidak menentukan sendiri siapa yang akan diusung sebagai calon. Tetap tinggal menandai dengan mencoblos calon yang paling memenuhi selera pemilih dari daftar sajian yang dihidangkan oleh Partai Politik atau calon perseorangan.

Tidak ada pilihan lain. Cocok tidak cocok, berkualitas atau tidak, aspiratif atau tidak, menu yang bisa dipilih adalah nama-nama calon yang tercantum dalam Daftar Calon Tetap untuk Pemilihan Umum legislative.

Untuk calon Presiden dan calon Wakil Presiden nama-namanya  akan diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum sesuai dengan jadwal waktu yang ditetapkan.

Sejumlah nama memang telah beredar di tengah-tengah masyarakat. Bahkan beberapa diantaranya secara intens melakukan marketing dan manuver politik melalui berbagai media. Tujuannya satu menarik simpati pemilih.

MEMILIH PEMIMPIN

Pemilihan umum sejatinya dimaksudkan sebagai sarana bagi rakyat untuk memilih pemimpin baik yang akan mewakili mereka di kursi legislative maupun yang akan dipercaya menjadi pemimpin pemerintahan selama 5 tahun ke depan.

Pemimpin yang lahir dari proses demokrasi yang substantif memiliki legitimasi untuk mengemban amanat rakyat.

Canakya Niti Sastra Bab I Sloka 9 antara lain menyatakan bahwa di negeri mana yang  tidak ada pemimpinnya, disana satu haripun anda jangan tinggal.

Sloka tersebut menunjukan betapa pentingnya peranan pemimpin dalam suatu negeri.

Canakya mengingatkan agar kita tidak tinggal satu haripun di negeri yang tidak ada pemimpinnya.

Negeri yang tidak ada pemimpinnya dalam hal ini termasuk di negeri yang  pemimpinnya mengalami deligitimsi alias lemah kepemimpinannya.

Sebab di negeri yang demikian itu seperti digambarkan Bhagawan Kamandaka (Lontar Rajaniti lembar 1) “negeri tanpa pemimpin akan dikuasai oleh terror dan kejahatan (ikara), dan  negeri itu akan dihancurkan oleh para durjana, seperti perahu tanpa kemudi pasti karam ditengah samudra (kapralayanya, kadyangganing perhu tanpa kamodi, nyata karema rimadyanikang samodra)”.

Seorang pemimpin dalam pandangan Bhagawan Kamandaka (ibid) tugasnya adalah mebangun kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh negeri, seperti terbitnya bulan memberikan kebahagiaan kepada seluruh negeri (gumaweaken ri kawerdyaning jagat, kadi angganing wulan, umadyanan amwat maweh sukaning rat kabeh).

Selanjutnya beliau menjelaskan pemimpin yang berwenang atau legitimate untuk memimpin negara adalah pemimpin yang memuliakan dharma (mahayuning dharma), tangguh menjaga kedaulatan negaranya, dan dapat mengatasi berbagai persoalan bangsanya dan mampu menghancurkan musuh (wnang umalahakene sarwa satru) seperti musuh negara sekarang terorisme, korupsi, kemiskinan, kebodohan. Pemimpin yang demikian itu bagaikan Batara Brahma yang berwenang membangun Negara menjadi  tentram dan sejahtera (sirata saksat pawak hyang Brahma wnangsira gumawyaknang loka werdi).

Yayurveda XX.9 (I Made Titib, Weda Sabda Suci Pedoma Praktis Kehidupan, hal 485) menyatakan “Visi raja prathistitah”, “Landasan seorang pemimpin adalah warga negaranya”.

Artinya seorang pemimpin harus memiliki basis dukungan yang kuat dari warga negaranya dari rakyat yang akan memilihnya.

Atau dalam bahasa politik pemimpin harus berasal dari rakyat, diplilih oleh rakyat dan mengabdi untuk kesejahteraan rakyat.

JANGAN PILIH “KENTANG BUSUK”

Bhagawan Kamandaka (Lontar Rajaniti, opcit) mengemukakan beberapa ciri orang yang tidak patut dijadikan pemimpin.

Diantaranya ialah  orang yang bertype:

Pertama, “aneka citta matrascah” yaitu orang yang tidak taat melaksanakan dharma, orang yang tidak taat menunaikan ajaran agama.

Orang yang demikian akan mengabaikan nilai-nilai moral dan etika. Tidak memiliki rasa hormat terhadap ajaran agama dan tidak memiliki cinta kasih terhadap sesama serta bersikap intoleran

Kedua, “samaloba lubdajana” yaitu seorang yang loba, tamak.

Orang yang demikian itu, memiliki hasrat kuat untuk menumpuk harta kekayaan dengan cara apapun, karena dikuasai oleh nafsunya yang tidak terkendali dan tidak pernah terpuaskan.

 Mereka tidak segan menggerogoti kekayaan Negara, melakukan praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme.

Ketiga, “lokeyukte kaleyasca” artinya orang yang tidak memperhatikan aspirasi rakyat.

Orang yang demikian itu, setelah meraih kursi sebagai pemimpin tidak peduli terhadap rakyat. Tidak mengidentifikasikan dirinya dengan rakyat yang menjadi basis dukungan kekuasaannya. Tetapi lebih cenderung menikmati kekuasaannya, dan semakin membuat jarak dengan rakyat. Pemimpin dalam tafsir mereka adalah orang yang mendapat privilege berada di atas menara gading kekuasaan, sedangkan rakyat berada di bawah harus melayani para pemimpin. Pemimpin adalah penguasa yang berhak menentukan kebijakan negara dan rakyat adalah orang yang dikuasai yang mesti tunduk patuh pada kebijakan negara meskipun tidak adil.

Pada Pemilihan Umum  2014 nanti, gunakan hak pilih anda dengan cerdas.

Timbang setiap calon dengan seksama. Telisik rekam jejak perjalanan kariernya.

Singkirkan “kentang busuk” dari keranjang pilihan. Atau pilah “calon hitam” untuk tidak dimasukkan dalam alternative pilihan.

Jangan pilih calon pemimpin yang tidak taat pada dharma, yang loba dan yang tidak memperhatikan aspirasi rakyat, seperti dikemukankan diatas.

Tentukan pilihan dengan bijak. Jangan tergoda janji-janji atau fulus sesaat.

Pilihan kita hari ini, akan menentukan nasib bangsa ini untuk paling tidak 5 (lima) tahun ke depan.

Pengutipan sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan judul, tanggal dan sumber:
Jangan Pilih “Kentang Busuk” Sebagai Pemimpin
http://www.jamsosindonesia.com/cakrawala/jangan_pilih_kentang_busuk_sebagai_pemimpin
Martabat - www.jamsosindonesia.com, 2016